Home / Liputan

Thursday, 19 November 2020 - 19:58 WIB

Hujan Batu di Liga 1, Boleh Coba Hujan Emas di Negeri Orang

Pepatah hujan batu di negeri sendiri lebih baik dibanding hujan emas di negeri orang kini sedang diuji kebenarannya dalam konteks kompetisi sepak bola.

Bukan kerusuhan yang terjadi. Tidak ada batu melayang ke tengah lapangan, namun Liga 1 masih beku dan belum bergulir lagi setelah terdampak pandemi Covid-19.

Baca juga : Persija Bantah Evan Dimas Ditawar Klub Malaysia

Di tengah karut marut penyelesaian permasalahan yang tak kunjung usai, kompetisi sepak bola pun turut merasakan dampak. Bersama dengan Brunei Darussalam, Indonesia merupakan negara Asia Tenggara yang belum menjalankan kompetisi.

Berbeda dengan Indonesia, negara di bagian utara Kalimantan itu memang sudah memutuskan menghentikan sepak bola sejak pandemi Covid-19.

Ada situasi riskan yang mengintai jika Liga 1 dibiarkan berjalan, yakni masalah kesehatan orang-orang yang turut terlibat di dalamnya termasuk pemain, pelatih, wasit, panitia pelaksana pertandingan dan lainnya.

Di sisi lain, tanpa kompetisi berarti tidak ada uang berputar dan aktor utama serta aktor pendukung lapangan hijau pun merasakan dampak besar. Beberapa bahkan banting setir menjalani profesi lain demi periuk nasi tetap mengebul.

Seiring sebangun dengan kompetisi mandek, muncul ‘kompetitor’ untuk PT Liga Indonesia Baru bernama tarkam atau juga populer dengan istilah fun game. Di media sosial terlihat beberapa pemain elite, bahkan pemilik caps di Timnas Indonesia, ikut bermain.

Baca Juga :  Matip Cedera, Liverpool Hampir Kehilangan Semua Bek Senior

Bagi beberapa pemain sebenarnya mereka memiliki kemampuan berlaga di tempat lain yang lebih pantas dan berkelas, yaitu di liga luar negeri. Liga sepak bola di Indonesia yang terhenti juga dipantau negara tetangga sehingga belakangan muncul rumor ketertarikan klub asing kepada pemain Indonesia.

Talenta sepak bola lokal boleh dikata tidak habis-habis, selalu muncul potensi yang menjanjikan dari tahun ke tahun. Maka jamak jika klub-klub liga tetangga, seperti Malaysia, Thailand, atau Myanmar melirik.

Ristomoyo, Bambang Pamungkas, Elie Aiboy, dan Andik Vermansah pernah menjadi bagian sukses klub Selangor meraih kejayaan. Sementara Evan Dimas, Ilham Udin Armayn, David Laly, Dedi Gusmawan, Irfan Bachdim, dan sederet nama lain pernah berkecimpung di liga luar.

Kurniawan Dwi Julianto, Bima Sakti, Rochy Putiray bahkan pernah mengadu nasib lebih jauh lagi, bukan sekadar main di negara tetangga.

Hanya saja ada faktor lain yang membuat para pemain tak mau beranjak dari negeri sendiri, seperti sudah merasa menjadi bintang dan rasa cepat puas ditengarai jadi penyebab, begitu pula soal home sick yang seperti jadi rahasia umum.

Kualitas liga tetangga, khususnya Malaysia Thailand dan Australia sudah diakui. Kendati aura liga sepak bola nasional merupakan salah satu yang kesohor lantaran fanatisme suporter yang kerap memenuhi bangku-bangku stadion, namun liga di Negeri Jiran pun tentu tak kaleng-kaleng.

Baca Juga :  Serdy Ephy Fano, Direkrut Fakhri Dicoret Shin Tae Yong

Jika Liga Indonesia masih hanya mengandalkan jumlah animo penonton, liga tetangga agaknya sudah lebih baik dalam urusan penjadwalan kompetisi, finansial, serta infrastruktur dan pembinaan usia muda.

Saat ini terhitung beberapa saja pemain Indonesia yang berkarier di luar negeri seperti Rudolof Yanto Basna yang merumput di Thailand, sementara ada Egy Maulana Vikri dan Witan Sulaeman yang mencoba peruntungan di Eropa. Selain tentu pemain-pemain blasteran macam Elkan Baggott yang sudah kadung mendapat privilege berkompetisi di luar lantaran faktor domisili.

Todd Rivaldo Ferre, Ryuji Utomo, Hansamu Yama Pranata, Evan Dimas, dan Osvaldo Haay belakangan ramai diperbincangkan memiliki kans menjajal liga tetangga yang sudah kembali berlangsung.

Masalah kenyamanan bermain bisa berperan besar dalam kualitas di atas lapangan adalah faktor personal pemain yang bergantung pada banyak hal. Bisa jadi berada jauh dari keluarga dan berkomunikasi dengan bahasa asing atau budaya yang tidak sreg menjadi faktor yang mengurangi minat pesepakbola Indonesia main di luar.

Namun tak ada salahnya juga mencoba pengalaman yang belum tentu datang lagi di masa depan. Apalagi saat ini belum jelas lagi kapan wasit meniup peluit tanda kick off dan gaji masih dibayar tak sampai separuh.

Share :

Baca Juga

Shin Tae-yong

Liputan

Sepak Bola Nasional: Shin Tae-yong Coret Belasan Pemain Timnas U-19

Liputan

Liga Inggris Man United vs Man City, Guardiola Cadangkan Aguero?
Masa depan Bale di tangan Madrid

Liputan

Bale: Saya Ada di Tangan Madrid, Mereka Membuat Segalanya Sulit

Liputan

Rencana Terburuk Arsenal Jika Terdegradasi

Liputan

Lampard Mencari Kemenangan Pertama Lawan Klopp di Liga Inggris

Liputan

Manajer FC Porto, Sergio Conceicao Ajarkan Anaknya Cara Meneror Juventus

Liputan

Liverpool Berpeluang Datangkan Lionel Messi, Jurgen Klopp Abaikan

Liputan

Terlibat Insiden di Mykonos, Kapten MU Harry Maguire Ditangkap Polisi